Fokus Bahas Limbah Plastik Sembilan Negara Anggota ACFIF Gelar Konferensi di Bali

 

KataBali.com – Sulitnya menghilangkan limbah berbahan plastik, tidak hanya dialami Indonesia. Tetapi sebagian besar Negara di Dunia, juga merasakannya. Sebut saja sejumlah Negara yang tergabung dalam  Asosiasi Asian Chemical Fiber Industries Federation (ACFIF),sebuah Asosiasi  Produsen Serat dan Benang Filamen  Asean, yang beranggotakan 9 negara (  Jepang, Cina, Cina Taipei, India, Korea, Malaysia, Pakistan, Thailand dan Indonesia).

Mereka secara khusus membahas mencari solusi kebaradaan Limbah dari sampai sampah industry serta buatan baik polyester, rayon dan nilon,“Kami membahas secara khusus  masalah sampah yang menjadi perhatian dunia, khususnya pengelolaan sampah plastic dinegara berkembang, “  jelas  Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyi) Perwakilan Indonesia, Ravi Shankar,kepada media dalam dan luar negeri ,sela  Konferensi ke-12 bertema, Sustainability of Man Made Fibers, Akhir pekan lalu, di Nusa Dua, Bali

Termasuk membahas proyeksi dari bahan baku serat kimia tersebut, “ Poin pentingnya, bagaimana bahan plastik bisa didaur ulang secara berulang kali. Kita menindaklanjuti, jika limbah ini sampai ke laut. Dari itu kami mendatangkan pembicara dari Amerika dan Eropa, yang sudah berpengalaman mengelola sampai plastic ”, kata  Ravi Shankar

Asosiasi yang merupakan himpunan industri serat kimia dan buatan, yang menaungi produsen serat sangat berharap ada solusi jangka panjang bagai Industri serat , bisa mendaur ulang botol-botol plastik yang terbuat dari bahan baku serat. Saat ini, sudah banyak negara-negara di dunia yang mulai menggunakan produk ramah lingkungan. Jepang sukses dengan kisahnya mendaur ulang sampah.

Pemerintahan Jepang memiliki peraturan ( deregulasi )  mengenai pembagian sampah yang bisa dibakar dan didaur ulang. Semua Negara sesuai kemampuan  bergerak di bidang plastik polyester. Banyak industri sudah mendaur ulang botol-botol plastik menjadi serat. Ini solusi jangka panjang.

Ia mengatakan, semakin ke depan, konsumsi orang semakin meningkat. Ini bisa dibuktikan bahwa sampah plastik bisa menjadi benang dan karpet, dan jika tak terpakai lagi, kemudian dibakar menjadi energi baru,” Ini menjadi focus  kami, terutama di Indonesia, yang diharapkan ,banyak belajar dari negara yang sudah memulainya,”  tandas Ravi .

Selain banyak belajar, Federasi ini juga minta kepada kepala daerah terus menerus memberikan edukasi kepada masyarakat, agar merubah kebiasaan MCK di sungai, atau membuang sampah tidak pada tempatnya, “ Kita apresiasi kepada Pemrov. Bali, yang menyiapkan Perda, terkait  pengelolaan berbagai jenis sampah  dari Sekolah, pemukiman, sampai level instansi pemerintahan dan swasta,” imbuh Ravi Shankar.

Masayuki Waga Perwakilan ACFIF Jepang mengatakan, di negaranya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya sudah dimulai sejak awal 1970-an. Masyarakat diberikan pemahaman, serta regulasi untuk ikut serta memilih dan memilah sampah yang dihasilkannya.

Untuk limbah Polyester, dimanfaatkan menjadi produk berdaya guna. Seperti karpet, gorden dan berbagai produk rumah tangga lainnya. Sehingga negara bisa mencari solusi untuk bisa keluar dari ancaman lingkungan yang disebabkan oleh limbah khusus limbah plastik dan Polyester.

Ia menceritakan,  kesuksesan  Jepang, ada dua hal menjadi fokus ini, “ Untuk limbah poliester  dengan memanfaatkan baju untuk dibuat benang kembali dan kemudian  bisa dijadikan karpet. Kedua diatur dalam sebuah aturan  pemerintah untuk menanggulangi masalah lingkungan ini,” tandas Masayuki Waga.

Perluas Jaringan Bisnis Serat Kimia

Dalam Konferenmse ini, selain berbagi  informasi terbaru dan akurat terkait industri serat kimia dan buatan berikut pengembangannya juga  peluang besar  memperluas jaringan bisnis, sebab Asia sebagai penyuplai lebih dari 70 % kebutuhan serat dunia berperan  signifikan memprediksi kondisi dan tantangan industri ke depan.

Menurut, Ravi Shankar, ketersediaan bahan baku merupakan faktor utama dalam keberlanjutan usaha sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) di Asia. “Gejolak dan fluktuasi di pasar serat dunia tiga tahun terakhir menjadi isu krusial bagi produsen TPT  mempersiapkan rencana usaha di tengah pertumbuhan konsumsi yang menjanjikan.

Melalui Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) dipercaya sebagai tuan rumah, dihadiri pula  4 negara peninjau, Denmark, Kuwait, Jerman dan Swedia, “Konferensi ini menjadi penting bagi pemangku kepentingan,” jelasnya.Karena  menghadirkan berbagai pembicara ahli yang berasal dari berbagai latar belakang industri serat buatan baik poliester, rayon dan juga nilon.

Japan Chemical Fibers Association (JCFA) memproyeksikan produksi serat kimia dan serat alami  mencapai 98 juta metrik ton dan 24 metrik ton  tahun 2025 nanti. Ini menunjukan, tren serat kimia semakin meningkat lima tahun ke depan dibanding dengan tingkat produksi serat alami yang mandek.

Dengan mempromosikan isu teknologi tinggi dan inovasi sebagai kata kunci, Konferensi ke-12 ACFIF fokus pada pembentukan pasar di masa depan yang bergantung pada kerja sama lintas industri, penelitian interdisipliner, dan sektor baru. Dalam konferensi ini, para pembuat keputusan membahas secara komprehensif dan memberikan data, fakta dan estimasi, serta referensi baru.

Perwakilan tiap Negara  memaparkan materi penting yang menjadi fokus mereka. Di antaranya Korea Selatan mengangkat isu “The 4th industrial revolution and the future direction of the Korean textiles & fashion industry”. Delegasi Jepang dengan materi “Global Mid-term Chemical Fibers Supply/Demand Forecast and Challenges”, sedang India, Mr. R D Udhesi  memaparkan “Raw Material Trends for Synthetic Fibres”.

Penekanan masa depan industri bakal  mengandalkan serat buatan berikut dengan turunan produknya sebagai serat masa depan adalah salah satu komitmen ACFIF dalam mengedepankan kelestarian lingkungan. ( nani )

katabali

Kami merupakan situs portal online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *