DJKI Kemenkum Perioritaskan Indikasi Geografis Kopi Arabika Kintamani Terdaftar di Eropa

KatBali.com – Bali – Kopi Arabika Kintamani Bali terdaftar sebagai indikasi geografis (IG) komoditas pertanian pertama di Indonesia. Ini adalah bayi dari penerapan sistem IG komoditas pertanian di Indonesia. Sebagai ucapan terima kasih kepada petani Kintamani, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum (DJKI Kemenkum) RI memperioritaskan pendaftaran IG Kopi Arabika Kintamani di Uni Eropa.


Hal itu diungkapkan Ketua Tim Pengawas IG DJKI Prof. Surip Mawardi saat melakukan pengawasan IG terdaftar di wilayah Bali khususnya IG No. 000000001 Kopi Arabika Kintamani Bali, Rabu (20/5). Prof. Surip Mawardi yang menjadi tokoh sentral dalam pengurusan IG Kopi Arabika Kintamani semasa masih aktif sebagai peneliti di Puslit Kopi dan Kakao Jember.

“Saya meneliti kopi arabika Kintamani antara tahun 1999 – 2007, jadi saya mendampingi petani kopi disini (Kintamani-red) dari tidak paham apa itu IG hingga mendapatkan IG pertama di Indonesia,” tutur pakar kopi itu berapi-api.


Prof. Surip Mawardi hadir di Kintamani didampingi anggota tim pengawasan yakni
Vera (DJKI) dan Abdul Rachman (Tim Pengawasan Indikasi Geografis dari Kementerian Kelautan dan Perikanan). Mereka diterima pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani, I Ketut Jati (Ketua), Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc. ( Wakil Ketua), Komang Eka Wisata ( Wakil Sekretaris), dan Pengusaha Kopi Arabika I Nyoman Astika yang didampingi Tim Brida Kab. Bangli, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Bangli, Kanwil Kemenkum Bali.


Dijelaskan pengawasan IG bukan semata-mata untuk mencari kesalahan pengurus MPIG tetapi melihat seberapa jauh dinamikan organisasi mampu menopang keberlanjutan IG itu sendiri.

“Saya berbangga di kepengurusan MPIG Kintamani ada akademisi yang bersedia terlibat, ini angin segar untuk meningkatkan kinerja organisasi. Kebetulan DJKI Kemenkum sedang dalam proses mendaftarkan IG Kopi Arabika Kintamani di Eropa. Jadi mohon dukungan pengurus MPIG khususnya pak Made Sarjana,” ungkap Prof. Surip Mawardi kepada Dr. I Made Sarjana yang dosen Fakultas Pertanian Unud yang tercatat sebagai wakil ketua MPIG Kopi Arabika Kintamani.


Prof. Surip Mawardi menekan agar MPIG Kopi Arabika Kintamani memperbaiki dokumentasi deskripsi IG, dan juga aktif mendorong hilirisasi IG dengan mengembangkan Agrowisata Kopi Arabika Kintamani Berbasis Indikasi Geografis.

“Kemenkum sedang menyusun MoU dengan Kemenpar untuk mengembangkan Agrowisata berbasis IG di Indonesia, mudah-mudahan IG Kopi Arabika Kintamani bisa menjadi pelopor,” tegas Prof. Surip Mawardi.

Pernyataan ini didukung Vera dan Abdul Rachman. Abdul Rachman menekankan pengembangan agrowisata berbasis IG sangat penting untuk mempublikasikan IG secara internasional dan membangun kebanggaan (pride) masyarakat lokal. “Harapannya ada pendapatan tambahan dari aktivitas wisata dengan story telling IG sebagai salah satu daya tariknya,” ucap Abdu Rachman. Sementara Vera meminta kesiapan pengusaha kopi Kintamani untuk memasarkan kopinya ke Eropa.

“DJKI berupaya membuka pasar kopi arabika Kintamani yang lebih luas ke negara-negara eropa, apakah bapak-bapak siap?” tanya Vera kepada Ketua MPIG Kopi Arabika Kintamani I Ketut Jati dan pengusaha kopi asal Desa Dausa Kintamani I Nyoman Astika serta Pengusaha Kopi Arabika Asal Desa Asah Gobleg I Komang Eka Wisata. Ketiga pengusaha kopi itu menyatakan kesanggupan dengan semangat menggebu. “Siap” ujar ketiga pengusaha itu bersamaan.


Sementara Dr. I Made Sarjana memaparkan berbagai persoalan terkait pengelolaan MPIG Kopi Arabika Kintamani. Dia mengakui organisasi belum berjalan optimal karena keterbatasan dana operasional. “Misalnya kami tidak bisa melaksanakan pertemuan rutin bulanan atau triwulan, atau menerbitkan kartu anggota MPIG karena butuh dana besar sementara kami tidak punya dana operasional,” tutur Dosen Pengembangan Masyarakat itu.

Namun demikian, tegas akademisi lulusan master pariwisata dan lingkungan Wageningen University Belanda ini, pertemuan pengurus dilaksanakan secara insidental ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat perguruan tinggi dan pihak swasta ataupun menerima tamu dari instansi.


Dr. Made Sarjana yang dikenal sebagai peneliti Agrowisata menekankan pihaknya siap menyusun kembali buku deskripsi IG menyesuaikan dengan kondisi terkini meliputi perubahan varietas, teknik budidaya maupun penanganan pasca panen “Termasuk deskripsi terkait potensi pengembangan agrowisata, saya akan susun draftnya bersama pengurus lainnya sesegera mungkin,” pungkas peneliti Pusat Unggulan Pariwisata Unud itu (*)

katabali

Kami merupakan situs portal online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *