Bali Hadapi Inflasi Musiman, TPID Fokus Sinergi dan Ketahanan Pangan
KataBali.com – Denpasar – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali melaporkan bahwa inflasi gabungan kabupaten/kota di Provinsi Bali pada Juni 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,44% secara bulanan (mtm). Kenaikan ini cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan deflasi -0,47% (mtm). Secara tahunan (yoy), inflasi Bali juga meningkat menjadi 2,94%, naik dari 1,92% pada Mei 2025.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyebut inflasi Bali masih dalam rentang target nasional 2,5±1%, namun perlu mendapat perhatian lebih karena angkanya melebihi inflasi nasional yang tercatat 0,19% (mtm) dan 1,87% (yoy).
Badung dan Denpasar Catat Inflasi Tertinggi
Secara spasial, seluruh wilayah IHK di Bali mengalami inflasi. Kabupaten Badung mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,53%, diikuti oleh Kota Denpasar 0,48%. Kota Singaraja dan Kabupaten Tabanan masing-masing mencatat inflasi 0,37% dan 0,29%. Secara tahunan, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Tabanan sebesar 3,38%.
Inflasi pada bulan Juni terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan harga cabai rawit, tomat, sawi hijau, buncis, dan cabai merah menjadi penyumbang utama. Kenaikan harga ini dipicu oleh pasokan hortikultura yang terbatas akibat gangguan distribusi dari sentra produksi seperti Bangli, Tabanan, Bima, dan Sembalun, serta daerah Jawa.
Harga Daging dan Jeruk Turun Redam Inflasi
Di sisi lain, inflasi tertahan oleh turunnya harga daging babi, bawang putih, daging ayam ras, jeruk, dan bensin. Penurunan harga daging dan jeruk terjadi seiring menurunnya permintaan setelah berakhirnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
BI Dorong Strategi 4K dan Ketahanan Pangan
Menghadapi risiko inflasi ke depan, terutama jelang peak season kunjungan wisatawan mancanegara dan tahun ajaran baru, Bank Indonesia Bali menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). BI mendorong strategi 4K yaitu:
- Keterjangkauan harga
- Ketersediaan pasokan
- Kelancaran distribusi
- Komunikasi efektif
Langkah strategis juga mencakup penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) melalui produktivitas pertanian, kerjasama antar daerah, dan efisiensi rantai pasok.
“Ketahanan pangan harus diperkuat dari hulu ke hilir, dengan melibatkan petani, penggilingan, koperasi, perumda pangan, hingga pelaku hotel, restoran, dan kafe,” tegas Erwin.
BI juga mendorong hilirisasi sektor pertanian, perbaikan irigasi, perlindungan lahan pangan, dan penggunaan benih unggul. Kolaborasi lintas sektor diyakini dapat menjaga inflasi Bali tetap dalam sasaran nasional di tengah tantangan cuaca dan musim liburan. **

