Kebudayaan Adalah Sebuah Harga Diri

KataBali.com – Untuk mempertahankan keberadaan Desa Pakraman, Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar setiap tahunya mengadakan Evaluasi Pembinaan Penataan Desa Pakraman dan Taman Gegirang Tingkat Kota Denpasar di setiap Kecamatan.

Kali ini Desa Pakraman Padangsambian yang mendapat giliran pertama menjadi duta Kecamatan Denpasar Barat yang di nilai dan di evaluasi oleh Tim Sabha Upadesa Kota Denpasar, Selasa kemarin (20/9) di Banjar Balun Desa Pakraman Padangsambian.

Dimana dalam evaluasi Desa Pakraman ini di hadiri dan disaksikan langsung Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya sekaligus membuka evalusi dengan penerimaan awig-awig Desa.

Yang pada kesempatan ini disaksikan oleh Camat Denpasar Bara IB Joni Ariwibawa, Ketua Tim Panureksa Sabha Upadesa Kota Denpasar I Wayan Meganada, Jro Bendesa Desa Pakraman Padangsambian I Gst Putu Gede Suwira, Kades, Lurah, Tim Sabha Upadesa dan Krama Desa Pakraman Padangsambian.

Dimana dalam evaluasi pembinaan penataan Desa Pakraman Kota Denpasar ini, Desa Pakraman Padangsambian mengikutkan 14 Banjar Adat.

“Evaluasi Pembinaan Penataan Desa Pakraman ini janganlah dijadikan suatu beban, akan tetapi jadikanlah suatu kebutuhan. Dikarenakan ini salah satu cara mengangkat harkat dan martabat atau harga diri kebudayaan kita sebagai orang Bali, sebab kebudayaan itu di dunia adalah sebuah harga diri,” kata Walikota Denpasar IB Rai Mantra.

“Dimana kita sebagai orang Bali harus selalu ingat dengan budaya kita, karena itu merupakan sebuah jati diri dari peradaban leluhur kita, jangan sampai jati diri dan harga diri kita hilang terhapus oleh kemodernisasian zaman”, sambung Rai Mantra.

Disini konsep Tri Hita Karana yakni Parahyangan yang merupakan kepercayaan terhadap Tuhan, Pawongan merupakan perwujudan antar sesama manusia dan Palemahan perwujudan alam semesta atau lingkungan/wilayah yang merupakan inti dari sebuah kebudayaan yang harus di jalani, ungkap Rai.

Oleh sebab itu setiap wilayah harus memiliki strategi di dalam menghidupkan kembali kebudayaan daerah itu sendiri, dengan harapan umat di Bali ini bisa menunjukan peradaban yang baik di Indonesia maupun di Dunia. Dan itu semua terbukti serta berhasil, dimana masyarakat dunia lebih tau Bali ketimbang Indonesia, dikarenakan Bali di ingat karna jati diri, harga diri umatnya dan kebudayaannya, yang sudah terbentuk dari leluhur terdahulu orang Bali, imbuhnya

Dan sekarang ini untuk mempertahankan itu semua diperlukan strategi kegiatan kebudayaan dalam sebuah obyek sebagai unsur-unsur sebuah kebudayaan, dimana unsur kebudayaan ini terdiri tujuh unsur yang meliputi Agama, Aksara, Seni, Organisasi Sosial, Pendidikan, Ekonomi dan Teknologi, ketujuh unsur ini lah yang disebut dengan Ketahanan Desa Pakraman, pungkas Rai.

Sementara Ketua Tim Panureksa Sabha Upadesa Kota Denpasar I Wayan Meganada mengatakan, Lomba Pembinaan Penataan Desa Pakraman dan Taman Gegirang Tingkat Kota Denpasar di masing-masing Kecamatan ini diadakan setiap tahunya guna memberikan pembinaan kepada Desa Pakraman untuk meningkatkan peran sertanya dalam menggali, melestarikan dan mengembangkan adat dan budaya Bali.

Menurutnya disamping untuk mewujudkan sumber daya masyarakat yang berkualitas terutama para prajuru desa maupun kramanya. Sehingga tercipta persaudaraan yang harmonis antar prajuru Desa dengan karma atau warganya. Selain juga untuk meningkatkan ketahanan sebuah Desa Pakraman, dimana indentitas budaya yang ada tidak  akan hilang begitu saja jika sebuah ketahanan pelestarian budaya daerah terus di jaga, di rawat, dipertahankan dan di teruskan oleh generasi muda sekarang ini. (JCJDY)

katabali

Kami merupakan situs portal online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *