Harmoni di Lahan Tumpangsari: Kopi dan Jeruk Kintamani Menuju Pertanian Modern Berkelanjutan
KataBali.com -Bangli — Optimalisasi lahan melalui sistem tumpangsari menjadi kunci masa depan pertanian di dataran tinggi Kintamani. Melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM), tim akademisi dari Universitas Warmadewa menginisiasi transformasi tata kelola pascapane kopi dan pengolahan limbah di Kelompok Tani Dharma Kriya, Desa Belantih, Kamis (14/5/2026).
Akademisi Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Ir. I Nengah Suaria, M.Si., menegaskan bahwa integrasi antara kopi sebagai tanaman utama dan jeruk sebagai tanaman sela bukan sekadar upaya peningkatan pendapatan, melainkan sebuah ekosistem pertanian yang harus dikelola secara presisi. Selama ini, potensi besar kopi di lahan tumpangsari belum tergarap maksimal akibat praktik pascapane yang belum seragam dan penanganan limbah yang terbengkalai.
“Penanganan pascapane adalah fase kritis yang menentukan lebih dari 60% kualitas cita rasa dan fisik biji kopi. Fokus kita adalah memastikan petani hanya memetik buah merah matang sempurna guna menghindari rasa ‘asparagus’ atau kayu yang muncul dari buah yang belum matang,” ujar Nengah Suaria di sela-sela kegiatan pelatihan.
Selama ini, kopi Belantih sering dijual sebagai komoditas curah dengan harga rendah. Mutu tidak seragam karena banyak petani memetik buah secara serentak tanpa memperhatikan tingkat kematangan. Dampaknya, cita rasa kopi menurun dan sulit menembus pasar premium. Jeruk siam yang ditanam bersama kopi pun menghadapi masalah serupa: kualitas rendah dan ketersediaan musiman.
Program PBM hadir menjawab persoalan itu. Petani dilatih menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), mulai dari pemangkasan, pemupukan berimbang, hingga fermentasi terkendali. Sebanyak 35 anggota kelompok tani mengikuti praktek langsung di kebun dan demplot percontohan.
Selain pascapanen, pengolahan limbah kulit kopi menjadi fokus utama. Selama ini, 55–60 persen buah kopi berubah menjadi limbah kulit yang menumpuk dan mencemari lingkungan. Melalui pelatihan, petani diajarkan mengolah limbah itu menjadi pupuk organik padat dan cair. “Limbah yang dulu dianggap masalah kini menjadi solusi. Petani bisa menekan biaya pupuk sekaligus menjaga kesuburan tanah,” kata Suaria.
Demplot yang dibangun di Belantih menjadi pusat pembelajaran berkelanjutan. Di lahan ini, petani mempraktikkan teknik baru sekaligus melihat hasil nyata dari penggunaan pupuk organik. Model ini diharapkan bisa direplikasi di desa lain sebagai sekolah lapangan.
Program PBM tidak hanya menyasar peningkatan mutu kopi dan jeruk, tetapi juga memperkuat posisi petani dalam rantai agribisnis. Kopi berkualitas tinggi dari Belantih diharapkan mampu menembus pasar premium dengan harga lebih baik, sementara pupuk organik dari limbah membuka peluang usaha baru di tingkat desa.
Suaria optimistis, keberhasilan program akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. “Pertanian Bali Era Baru harus bersih, hijau, dan berkelanjutan. Desa Belantih kini memberi contoh nyata bagaimana tradisi tumpangsari bisa dipadukan dengan teknologi modern,” tutupnya.myl

