Membaca Jejak Sedimen Mangrove Jembrana untuk Masa Depan Iklim

KataBali.com – JEMBRANA, Ekosistem mangrove bukan sekadar sabuk hijau pelindung pesisir dari ancaman abrasi. Akar tunjang yang rapat dan hamparan lumpur di bawahnya menyimpan arsip alam raksasa yang menentukan nasib iklim global. Kesadaran inilah yang membawa para peneliti lintas negara turun langsung ke kawasan mangrove Budeng, Jembrana, Bali, Selasa (21/4/2026).

Proyek International Joint Research on Mangrove Ecosystems menjadi payung besar bagi para ilmuwan Kookmin University (Korea Selatan) untuk berkolaborasi dengan Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF). Kekuatan akademis lokal dari Universitas Warmadewa dan Universitas Dhyana Pura turut memperkuat aliansi penelitian ini.

Fokus utama tim peneliti tertuju pada pengumpulan data biofisik yang presisi, bukan sekadar seremoni formal. Tim peneliti melakukan pengambilan sampel vegetasi dan sedimen secara mendalam di bawah terik matahari pesisir Jembrana.

Langkah pengambilan sampel sedimen menjadi krusial karena tanah di bawah tegakan mangrove mampu menyimpan karbon biru jauh lebih besar dibandingkan hutan tropis di daratan. I Putu Sugiana, S.Si., M.Si., dosen Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Warmadewa yang terjun langsung dalam riset ini, menjelaskan bahwa analisis sedimen akan membuka tabir mengenai fungsi ekologis kawasan tersebut.

“Analisis terhadap sampel sedimen memungkinkan kita memahami karakteristik penyimpanan karbon dan struktur vegetasi yang ada. Data ini menjadi kunci untuk melihat sejauh mana peran kawasan Budeng dalam mitigasi perubahan iklim secara nyata,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela kegiatan lapangan.

Keterlibatan mahasiswa dalam riset ini juga menjadi bagian krusial dari proses transfer pengetahuan. Mereka mempelajari teknik pengambilan data sekaligus memahami bahwa setiap sentimeter lapisan lumpur mangrove mengandung informasi tentang sejarah lingkungan serta kemampuan adaptasi pesisir terhadap kenaikan air laut.

Riset kolaboratif ini mencerminkan bentuk diplomasi sains yang nyata, melampaui sekadar pengumpulan data teknis. Masalah iklim tidak mengenal batas negara sehingga kerusakan mangrove di satu titik pesisir akan berdampak pada resiliensi kawasan secara global.

Kemitraan antara institusi Korea Selatan dengan institusi lokal di Bali menunjukkan bahwa penyelamatan lingkungan memerlukan standar ilmiah internasional yang dipadukan dengan pemahaman konteks lokal. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya berakhir di meja laboratorium atau jurnal ilmiah, tetapi menjadi basis data bagi pengambil kebijakan dalam memetakan kawasan konservasi mangrove yang lebih efektif.mul

katabali

Kami merupakan situs portal online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *