Penglipuran Perkuat Sinergi Pariwisata, Skema Retribusi 60:40 Tetap Dipertahankan

KataBali.com – BANGLI – Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli kembali menegaskan posisinya sebagai contoh keberhasilan harmonisasi antara pelestarian tradisi dan pengelolaan pariwisata modern. Komitmen tersebut mengemuka dalam sebuah forum sinergi pengelolaan dan pengembangan daya tarik wisata yang digelar di Desa Penglipuran, Jumat (23/1/2026).

Forum ini mempertemukan jajaran Pemerintah Kabupaten Bangli, tokoh adat, serta masyarakat Desa Penglipuran untuk membahas penguatan kolaborasi dalam pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dan berpihak pada kesejahteraan warga.

Salah satu poin utama yang disepakati adalah tetap dipertahankannya pembagian hasil retribusi pariwisata dengan skema 60 persen untuk Desa Penglipuran dan 40 persen untuk Pemerintah Kabupaten Bangli. Skema ini dinilai adil dan efektif dalam mendorong kemandirian desa sekaligus mendukung pendapatan daerah.

Dana hasil retribusi tersebut direncanakan akan dialokasikan untuk perbaikan dan peningkatan infrastruktur desa senilai Rp2,5 miliar pada tahun 2026, serta pengembangan paket-paket wisata yang lebih variatif guna memperpanjang lama tinggal wisatawan.

Selain aspek ekonomi, forum juga menyoroti isu strategis pengelolaan sampah, yang ke depan diarahkan tidak hanya sebagai upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi baru melalui pengolahan kompos dan pemanfaatan energi berbasis limbah.

Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan pariwisata.

“Kami berkomitmen memastikan setiap kebijakan yang diambil berpihak pada kepentingan masyarakat, dengan tetap menghormati nilai-nilai adat dan budaya yang menjadi fondasi Desa Penglipuran,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang dan keleluasaan kepada masyarakat untuk mengelola potensi desa secara mandiri agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh warga.

“Dengan Pendapatan Asli Daerah yang masih relatif kecil, setiap peluang untuk meningkatkan PAD akan terus kami maksimalkan,” ujar Sedana Arta.

Menurutnya, Penglipuran bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol keberhasilan masyarakat Bali dalam menjaga warisan leluhur sambil beradaptasi dengan dinamika zaman.

“Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat, kami berharap Penglipuran terus bersinar sebagai permata Bali yang mempesona,” pungkasnya. (*)

katabali

Kami merupakan situs portal online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *