Harga Sayur Anjlok di Bedugul, Petani Terpaksa Buang Hasil Panen

KataBali.com – Tabanan – Petani sayur di kawasan Bedugul, Kabupaten Tabanan, tengah menghadapi masa sulit akibat anjloknya harga komoditas sayur, terutama letus (selada). Harga yang sebelumnya mencapai Rp30.000 per kilogram, kini hanya berkisar Rp3.000–Rp5.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat sebagian petani tidak sanggup lagi menyalurkan hasil panen ke pasar. Tak sedikit dari mereka terpaksa membuang sayuran karena tidak laku dijual.

Salah seorang petani di Banjar Kembang Merta, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Nyoman Sukita, mengaku kebingungan menghadapi situasi tersebut.
“Hasil panen ini sampai dibuang karena tidak ada yang beli. Sekarang pun berkelanjutan, sudah kelewatan masa panen,” ungkapnya, Minggu (7/9).

Menurut Sukita, harga selada bulan ini merupakan yang terendah dibandingkan masa pandemi Covid-19. Padahal, empat bulan lalu harga pasar masih tergolong stabil.

Ia menjelaskan, selada hanya berusia sekitar 50 hari sehingga panennya berlangsung cepat dan terus-menerus. “Kalau sudah panen harus cabut lagi, tanam lagi. Tapi sekarang tidak ada yang ambil,” keluhnya.

Selama ini, petani biasanya menjual hasil panen melalui tengkulak untuk kemudian dipasarkan ke pasar tradisional maupun hotel. Namun, sejak sebulan terakhir, permintaan menurun drastis sehingga panen puluhan kilogram tidak terserap.

Selain selada, beberapa komoditas lain seperti bayam merah juga mulai ikut terdampak. “Kalau dulu bisa panen 40–50 kilogram, sekarang tidak ada kepastian harga. Membuat kami bingung mau bagaimana,” tambah Sukita.

Hingga kini, petani belum mengetahui secara pasti penyebab anjloknya harga sayuran. Mereka hanya berharap situasi ini segera berakhir dan ada solusi agar hasil panen tidak terus terbuang sia-sia. hmt

katabali

Kami merupakan situs portal online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *