Semarak Nyepi Caka 1948, Bunda PAUD Badung Buka Lomba Ogoh-Ogoh Mini Berbahan 95% Sampah Organik di Abiansemal
KataBali.com – Badung – Dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948, Bunda PAUD Kabupaten Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa secara resmi membuka Lomba Kreativitas Ogoh-ogoh PAUD se-Kecamatan Abiansemal. Kegiatan tersebut digelar di Wantilan Pura Dalem Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Selasa (3/3), yang ditandai dengan pemukulan gong sebagai simbol dimulainya perlombaan.
Turut hadir Anggota DPRD Badung I Gede Budiyoga, Camat Abiansemal, perwakilan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Badung, Bunda PAUD Kecamatan Abiansemal dan Kuta Utara, Ketua Forum Perbekel, Perbekel Desa Sedang, serta para guru dan anak-anak dari lembaga PAUD dan TK se-Kecamatan Abiansemal.
Dalam sambutannya, Bunda PAUD Kabupaten Badung menyampaikan apresiasi atas semangat dan kreativitas anak-anak dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Menurutnya, parade ogoh-ogoh mini ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter dan pelestarian budaya sejak usia dini.
“Parade ogoh-ogoh PAUD ini bukan hanya hiburan, melainkan upaya nyata menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan anak-anak terhadap warisan seni, tradisi, dan budaya Bali yang kaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tema yang diangkat tahun ini, yakni “Gali Kreativitas Sampah Organik”, sangat relevan dengan kondisi lingkungan di Kabupaten Badung. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah organik menjadi karya yang memiliki nilai guna.
“Kami berharap sejak dini anak-anak memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Mengolah sampah organik menjadi ogoh-ogoh mini adalah bentuk pembelajaran kreatif sekaligus edukasi lingkungan,” tambahnya.
Ketua Panitia Ni Putu Indah Mariani menjelaskan, lomba ini diikuti oleh 38 lembaga perwakilan TK dan PAUD dari seluruh gugus di Kecamatan Abiansemal. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam menyelaraskan nilai adat dan budaya Bali dengan gerakan pelestarian lingkungan.
Dalam ketentuan lomba, ditetapkan bahwa 95 persen bahan ogoh-ogoh mini harus berasal dari sampah organik. Aturan tersebut dimaksudkan untuk menanamkan pemahaman kepada anak-anak bahwa mencintai budaya tidak harus merusak alam.
“Menjaga alam adalah bentuk tertinggi rasa syukur kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun karakter generasi muda yang cinta budaya sekaligus peduli lingkungan,” tutupnya.
Kegiatan ini pun berlangsung meriah dengan tampilan beragam ogoh-ogoh mini hasil kreativitas anak-anak yang memadukan unsur seni, edukasi, dan kepedulian terhadap lingkungan, sejalan dengan semangat menyambut Hari Raya Nyepi Caka 1948. hbd

